English click here Please click here for the English version
Kesimpulan dan Rekomendasi Forenas 2016 PELKESI PDF Print E-mail
Written by Admin   
Thursday, 17 November 2016 15:07

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI FORUM REFLEKSI NASIONAL PELKESI

Ambon, 2-4 Oktober 2016

 

 

 

PENDAHULUAN

 

 

Kami peserta Forum Refleksi Nasional (Forenas) Perkumpulan Pelkesi, sebagai perkumpulan seluruh rumah sakit Kristen, pekarya kesehatan Kristen, lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan Kristen di Indonesia, pada tanggal 2-4 Oktober 2016 di Ambon, Propinsi Maluku, menyatakan:

1.             Menyadari pentingnya Forenas 2016 yang ber-tema: Lihat aku hendak membuat sesuatu yang baru (Yesaya 43: 19a) dan sub-tema:Mengukuhkan karya pelayanan Kristen untuk kesehatan di Indonesia yang sinergis, berkesinambungan dan profesional”. Sesuai ART Perkumpulan Pelkesi, Forenas pertama Pelkesi ini bertujuan untuk melakukan refleksi perjalanan Perkumpulan Pelkesi, melakukan pembelajaran, dan memberikan rekomendasi agar sisa akhir program berjalan dengan baik. Dari Forenas ini diharapkan output yang berupa: pertama, dirumuskannya posisi Perkumpulan Pelkesi saat ini (where we are now) apabila diperhadapkan dengan panggilan visi dan misi sesuai AD/ART; ke-dua, konteks pembangunan kesehatan di Indonesia dan “industri” pelayanan kesehatan baik secara  nasional dan secara khusus di Indonesia Bagian Timur (IBT); ke-tiga, dirumuskannya pembelajaran positif (best practice) kepeloporan peran Perkumpulan Pelkesi di tingkat nasional dan regional secara khusus di IBT sebagai referensi penyusunan strategi baru ke depan; Ke-empat, disusun strategi dan fokus program baru di sisa akhir kepengurusan Perkumpulan Pelkesi sampai tahun 2018; dan yang terakhir, meningkatnya persekutuan, solidaritas dan kebersamaan antar unit Perkumpulan Pelkesi, dan dengan jemaat/gereja tuan rumah, sehingga Forenas ini memberi manfaat konkret kepada peserta dan tuan rumah.

 

2.             Mencatat signifikansi Forenas yang dihadiri oleh 116 peserta yang mewakili 25 rumah sakit (RS), 2 klinik, 6 yayasan, 4 gereja pemilik dan 4 lembaga pendidikan dari seluruh Indonesia yang mempergumulkan berbagai tantangan dan peluang kesehatan di Indonesia dan potensi peran Perkumpulan Pelkesi.

 

Setelah mempergumulkan berbagai input dari narasumber yang terdiri dari:  Dokter Bert Adrian Supit, pendiri Pelkesi, tentang Tantangan Pelkesi dalam Masyarakat Pasca Modernisme; Prof. DR. Kresnayana Yahya, M.Sc., konsultan dan ahli statistik ITS, tentang Tantangan Bisnis Kesehatan di Indonesia; Sigit Wijayanta, M.Si., Ph.D, Badan Pertimbangan Perkumpulan Pelkesi, tentang Pilihan Model Pelayanan Anggota Pelkesi dalam Pembangunan Kesehatan di Era Sustainable Development Goals (SDGs) 2030; Theofransus Litaay, LLM, Ph.D, staf Kantor Kepresidenan RI, tentang RPJMN 2015-2019, Renstra Kemenkes 2015-2019, serta 2 tahun pelaksanaan Nawa Cita khususnya di IBT; serta input dari Yusuf Nugroho, MM, Kepala Biro Kesehatan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), mitra Perkumpulan Pelkesi di Papua, tentang Potensi, Keprihatian dan Tantangan IBT; juga Sambutan Pembukaan dari Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff; Sambutan dari Plt. Walikota Ambon, Frangki Papilaya yang menyampaikan Profil Kota Ambon dan Propinsi Maluku; peserta membagi diri dalam 3 kelompok yang dipandu oleh 6 narasumber untuk menganalisa berbagai harapan dan keprihatinan dan mengusulkan rekomendasi Forenas.

 

 

 

HARAPAN DAN KEPRIHATINAN

 

 

 

Kami memberi penghargaan atas berbagai pencapaian dalam pembangunan di Indonesia saat ini dimana tahun pertama pemerintahan Jokowi-JK dimulai dengan pembangunan FONDASI untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan daya saing, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan visi Nawa Cita. Pada tahun ke-dua Pemerintah mempertahankan momentum pertumbuhan yang sudah mulai terjadi karena pembangunan fondasi di tahun sebelumnya melalui peningkatan pembangunan yang berfokus pada tiga pilar yaitu INFRASTRUKTUR, PEMBANGUNAN MANUSIA, dan REFORMASI KELEMBAGAAN.

 

 

 

 

Kami bergembira bahwa peran kesehatan akan terus meningkat dari di bawah 3% GDP akan menjadi 4.5% GDP di tahun 2020, menjadi 50 billion US$ (650 triliun Rupiah)di tahun 2025 diperkirakan 80% penduduk hidup di perkotaan atau fasilitas perkotaan akan mendorong kehidupan secara umum. Kelas menengah diperkirakan sudah melebihi 150 juta orang. Daya beli meningkat setara 10-14 juta Rupiah per bulan per keluarga, dan daya beli untuk kesehatan meningkat, bisnis kesehatan akan melipat dua dibanding tahun 2014 di tahun 2025.

Kami juga berbahagia selama di kota Ambon merasakan secara langsung bagaimana Maluku yang dulu porak-poranda akibat konflik menjadi propinsi yang penuh harapan dengan indeks kebagiaan dan tingkat kerukunan umat beragama yang tinggi, tingkat kesejahteraan yang makin meningkat.

Namun demikian kami mencatat berbagai keprihatinan  yang seharusnya menjadi prioritas penanganan kita bersama, yaitu antara lain:

1.    Beberapa target MDGs yang telah berakhir pada tahun 2015 belum tercapai secara khusus di wilayah IBT.

2.    Dari 9 propinsi di IBT, 7 propinsi di antaranya masih tertinggal, baik dalam indeks pembangunan, status kesehatan, tingkat kemiskinan, dan beberapa indikator kunci kesehatan lainnya.

3.    Ketika beberapa propinsi sudah memasuki bonus demografis dimana tingkat fertilitas rendah, jumlah usia produktif meningkat dan usia tua sedikit yang sangat potensial untuk pengembangan ekonomi dan kesejahteraan, propinsi-propinsi di IBT sampai tahun 2030 belum mencapai hal yang ideal itu sehingga potensi pengembangan terkendala.

4.    Kemiskinan memang mengalami penurunan namun kurang signifikan, tingkat kemiskinan di IBT belum terangkat bahkan di Propinsi Maluku mengalami peningkatan sementara tingkat kesenjangan meningkat secara nyata.

5.    Tingkat kepercayaan kepada pemerintah Jokowi-JK tertinggi sepanjang sejarah karena program JKN. JKN juga mampu menekan inflasi kesehatan dan rasionalitas pelayanan kesehatan. Namun demikian kami prihatin atas ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pemerintah dan makin besarnya defisit BPJS yang mengancam sustainabilitas program.

6.    Pada pra dan masa awal kemerdekaan, RS-RS Kristen menjadi pilihan satu-satunya pemberi jasa pelayanan kesehatan, namun dari sisi pelayanan kuratif pertumbuhan RS kristen sangat lamban, walau untuk pelayanan preventif dan promotif masih menjadi andalan di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

7.    Unit-unit Pelayanan Kesehatan Kristen (UPK) di IBT juga mengalami ketertinggalan baik dari sisi pertumbuhan dan kualitas pelayanan karena berbagai kendala kurangnya SDM, medan pelayanan yang berat, sinergitas, integrasi dan keharmonisan di antara Sinode, Yayasan, dan UPK yang kurang, bahkan banyak yang tidak dapat menyelesaikan konflik internal dengan elegan dan demokratis.

8.    Pertumbuhan kelas menengah sebagai potensi kemandirian pelayanan dan cross-subsidi diakonia pelayanan kepada yang miskin dan tertinggal belum bisa ditangkap dengan baik oleh lembaga pelayanan Kristen.

 

KOMITMEN

Melihat peran pelayanan kesehatan dalam sejarah pembangunan kesehatan yang begitu signifikan, realita penurunan peran pada saat ini meningkatkan “sense of crisis” kami untuk melakukan perubahan dan transformasi pelayanan dengan berkomitmen untuk:

1.    Back to basic principle of the Bible: kembali kepada misi panggilan awal bahwa karya pelayanan kesehatan sebagai bagian karya penyelamatan Allah dengan menghadirkan penyembuhan yang mengutuhkan di bumi Indonesia. 

2.    Memperkuat kapasitas khususnya leadership dan kompetensi manajemen agar dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang begitu cepat.

3.    Memperkuat Holistic Approach (pelayanan yang komprehensif dan paripurna) melalui program-program yang inovatif sebagai kekuatan lembaga.

4.    Memperluas jangkauan pelayanan secara kualitatif dan kuantitatif khususnya yang tidak mendapat akses pelayanan, maupun kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan yang lebih berkualitas.

5.    Meningkatkan sinergi dan koordinasi antar pemangku kepentingan baik internal dan eksternal.

 

 

 

 

REKOMENDASI

 

 

Agar 5 komitmen ini dapat diwujudnyatakan maka Forenas Pelkesi menyampaikan rekomendasi-rekomendasi sebagai berikut:

 

 

a.      Kepada Pengurus Pelkesi:

 

 

1)     Pemutakhiran data SDM untuk membuat prioritas pendekatan yang tepat guna dan mampu laksana.

2)     Dilakukan assessment, pentahapan, dan implementasi dengan bottom up approach (berdasarkan kebutuhan).

3)     Strategi promosi pemenuhan SDM melalui penempatan dokter, intership paramedis, dan penempatan spesialis dengan mengoptimalkan dan mendukung program penempatan Kemenkes melalui Surat Keputusan dan kelengkapan fasiltas.

4)     Pendekatan melalui Persekutuan Mahasiswa Kedokteran di Fakultas-Fakultas Kedokteran Negeri untuk memotivasi mereka untuk mau bekerja di IBT sebagai wilayah pelayanan untuk teman-teman seiman.

5)     Melakukan monitoring dan evaluasi bagi kader yang telah dilatih.

6)     Membuat forum pengkajian paradigma yayasan dan PT.

7)     Mengupayakan advokasi terkait pajak bagi RS Swasta (PERSI).

8)     Optimalisasi tenaga pelayanan pastoral untuk perwujudan pelayanan yang holistik.

 

 

 

b. Kepada Unit-Unit Anggota Pelkesi:

 

 

1)  Pendekatan tim mobile merupakan pendekatan yang tepat untuk menjawab permasalah geografis (Puskesmas Keliling Air dan Rumah Sakit Terapung).

2)  Persiapan pembentukan tim mobile dengan memfasilitasi pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan.

3)  Prioritas tim mobile adalah daerah-daerah yang belum dijangkau oleh pemerintah.

4)  Mengedepankan upaya prevetif dan promotif melalui pendekatan Primary Health Care (PHC).

5)  Untuk kejadian luar biasa, mempersiapkan dan melatih tenaga kesehatan dan non-kesehatan untuk early warning system (EWS).

6)  Direktur harus memiliki kepemimpinan yang berintegritas, mengerti dan terlibat dalam proses, harus tahu detail proses bisnis dari pasien datang sampai pulang lebih memikirkan value pelayanan.

7)  RS Kristen melayani pasien BPJS dengan equitas.

8)  Menjaga kemitraan yang baik dengan BPJS Kesehatan memiliki komunikasi yang baik, menjaga kepercayaan yang baik.

9)       Sinergi fungsi sosial dengan Sistem Jaminan Nasional (SJN).

10)  Membina nama baik (branding) RS Kristen.

11)  Mengusahakan SDM harus terstandar dan kompeten, untuk itu diperlukan  forum sharing antar bidang personalia UPK Pelkesi.

12)  Pelayanan holistik dikembangkan secara inovatif dengan meningkatkan klaster pastoral antar UPK.

13)  Adanya klaster pendidikan di Pelkesi agar bisa saling bergandengan tangan.

14)  Meningkatkan kerjasama dengan institusi pendidikan Kristen untuk prioritas pemenuhan ketenagaan khususnya dokter dan dokter spesialis.

15)  Harus lebih berorientasi target, berpikiran analitik, ketrampilan keuangan, inovatif, strategis.

16)  Manajemen pelayanan harus lebih akuntabel, kolaboratif, menggunakan IT, tata organisasi dengan pengukuran kinerja.

17)  Pengembangan berbagai diakonia model baru lebih mewujudkan pelayanan prima dan pelayanan pastoral yang holistik.

18)  Peningkatan tata kelola kendali mutu dan kendali biaya.

19)  Memiliki sistem remunerasi yang fair dan bertumbuh.

20)  Mempertahankan bahkan mengembangkan program UPKM/ekstramural RS.

 

 

 

     c.    Kepada Gereja Pemilik:

 

 

1)  Gereja harus mengubah mindset dalam tatakelola pelayanan kelembagaan kesehatan.

2)  Gereja shifting paradigma tentang pengelolaan/governing UPK lebih mendalami kajian pilihan badan hukum lembaga antara Yayasan, PT dan altenatif lain yang lebih memberi peluang pengembangan.

3)  Yayasan shifting paradigma dari pola lama ke pola baru pengembangan UPK sesuai perkembangan.

4)  Para pendeta dan guru jemaat disiapkan untuk menjadi kader kesehatan jemaat dan masyarakat (parish nursing).

5)  Pelayanan yang terintegrasi antara aspek sosial, kesehatan, dan spiritual akan terwujud dengan kerjasama di antara badan-badan Sinode, Yayasan, dan UPK, serta pemerintah.

6)  Harus ikut memahami dinamika RS.

7)  Mengembangan klinik gereja dalam membangun kerjasama dengan BPJS.

 

 

 

d. Kepada Mitra Pihak Swasta:

 

 

1)     Kepada mitra yang ada, diharapkan dapat lebih meningkatkan kerjasama dengan Pelkesi (mis. kerjasama LPMAK dengan Pelkesi untuk Program Kampung Sehat di Kabupaten Mimika).

2)     Mengoptimalkan pemanfaatan kegiatan CSR dari perusahaan-perusahaan  dengan berpedoman kode etik kerjasama dengan private corporation sebagaimana ditetapkan oleh Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC).

e. Kepada Pemerintah Daerah:

1)     Mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing wilayah untuk bersedia bekerjasama dengan Pelkesi Wilayah.

2)     Khusus dengan Pemda Propinsi Maluku, diharapkan dapat bekerjasama dalam meningkatkan aksesebilitas pelayanan kesehatan kepulauan melalui Sailing Medical Service dan pelayanan pendukung lainnya.

 

 

f. Kepada Pemerintah Pusat:

 

 

1)       Mendorong perwujudan Nawa Cita bidang kesehatan khususnya IBT yang tertinggal.

2)       Mendorong penggunaan pendekatan khusus sesuai dengan konteks wilayah IBT untuk percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

3)       Memberi perhatian khusus pada suku asli yang tertinggal dengan pendekatan “hit to the target” yang dilaksanakan secara komprehensif yang sustain.

4)       Melakukan evaluasi terhadap PMK 56 tahun 2014.

5)       Mempercepat implementasi komitmen global SDGs di Indonesia dengan memastikan framework dalam perundangan nasional Indonesia melalui Perpres dan turunannya, kelembagaan yang melibatkan CSO di segala aras termasuk Pelkesi, dan memastikan penganggaran dalam setiap RAPB di Pusat maupun Daerah.

 

PENUTUP

Mengakhiri rekomendasi ini kami menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang mendukung keberhasilan Forenas ini, secara khusus kepada Gubernur Propinsi Maluku, Kantor Staff Presiden RI, Plt. Walikota Ambon, para narasumber, panitia Seknas Pelkesi Jakarta, dan panitia lokal Pelkesi Wilayah IV dan panitia Ambon, serta semua peserta. Kami berharap semua rekomendasi yang kami sampaikan mendapat perhatian dan tindak lanjut dari semua pemangku kepentingan.

Demikian kesimpulan dan rekomendasi yang kami sampaikan. Draft Rekomendasi ini disusun oleh Panitia Perumus, ditetapkan dalam rapat Pimpinan Anggota tanggal 3 Oktober 2016, dan ditandatangani semua peserta Forenas sebagaimana dalam lampiran.