English click here Please click here for the English version
Supervisi Ke Alor PDF Print E-mail
Friday, 13 November 2009 10:16

Alor merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terdiri dari 3 pulau besar dan enam pulau kecil yang saat ini ada penghuninya; memiliki luas wilayah 2.864,64 Km2, yang dibagi menjadi 17 kecamatan secara administrasi pemerintahan. Secara geografis daerah ini merupakan pegunungan tinggi yang dikelilingi oleh lembah. Lebih separuh luas wilayah (64,25 %) merupakan daerah pegunungan dengan tingkat kemiringan lebih dari 400. Dengan kondisi geografis yang demikian, bagi sebagian besar masyarakat Alor tidak ada pilihan lain tinggal di daerah pegunungan atau bermukim di lembah. Keadaan ini mempengaruhi  akses terhadap pelayanan kesehatan. Hampir semua kota kecamatan memiliki Puskesmas, tetapi karena pelayanan menyesuaikan dengan “jam-kantor”, dan beberapa petugas kesehatan tinggal di tempat lain (di luar Puskesmas), pelayanan kesehatan kepada masyarakat mengalami hambatan yang berarti. Masyarakat kesulitan mengakses pelayanan kesehatan.

Daerah ini dapat ditempuh dengan penerbangan melalui Kupang, ibukota provinsi NTT, sekitar 1 jam perjalanan, dengan frekuensi 1-2 kali penerbangan setiap hari. Bisa juga dengan kapal laut (ferry) setiap hari, yang dapat ditempuh sekitar 8 jam. Perjalanan melalui laut, dapat juga ditempuh langsung dari Jakarta atau Surabaya. Itu berarti daerah ini terbuka bagi masyarakat, baik lokal dan nasional maupun mancanegara, untuk datang dan pergi dari daerah ini. Apalagi daerah ini memiliki  daerah tujuan wisata bahari terumbu-karang; termasuk salah satu yang terindah di Indonesia. 


Penulis mendapat kesempatan berkunjung ke daerah ini, mensosialisasikan salah satu program PELKESI (Persekutuan Pelayanan Kristen Untuk Kesehatan) yang bekerjsama dengan SIMAVI (Belanda)—lembaga swadaya masyarakat (NGO-non government organization) yang peduli pada pengurangan kemiskinan, khususnya dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal bagi setiap manusia. Program yang dikerjasamakan berdasarkan pada Nota Kesepahaman (MOU-memorandum of understanding) adalah memenuhi target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s-millenium development goal), yaitu pengurangan angka kematian bayi-lahir, kematian ibu melahirkan, dan kekurangan gizi kepada bayi lima tahun (balita). Salah satu daerah untuk program ini adalah Alor, Nusa Tenggara Timur, disamping Manokwari (Papua Barat), dan Kalimantan Tengah.


Tujuan perjalanan ini adalah bertemu dengan para pemangku kepentingan (stakeholder), yaitu Bupati Alor, Kepala Dinas Kesehatan, tokoh gereja dan masyarakat desa sebagai mitra sekaligus subyek program ini; memperkenalkan Pelkesi dan program kesehatan masyarakat yang akan dilaksanakan di daerah ini. Disamping itu, juga mengunjungi Balai Pengobatan (BP) Parama Asih—dimiliki oleh Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), dikelola oleh Klasis Alor—berdiskusi dengan Pengurus Yayasan dan “karyawan” tentang perkembangan pelayanan unit ini dan mengkoordinasikan pelaksanaan program kesehatan masyarakat.


Balai Pengobatan (BP) Parama Asih

Kegiatan di hari pertama setelah tiba di Alor adalah bertemu dengan pengurus Yayasan dan meninjau bangunan dan pelayanan BP Parama Asih. Balai Pengobatan ini pada mulanya adalah tempat perawatan penderita penyakit kusta (leprosey) yang dikelola oleh para misionaris (zending) Belanda. Setelah kemerdekaan, perawatan ini dipindahkan ke lokasi lain oleh pemerintah daerah, karena lokasi sekarang, yaitu Kalabahi merupakan kota kabupaten. Atas inisiatif tokoh gereja GMIT di Alor, antara lain Pdt Dominikus Adang, Pdt Gorang, dkk., mengambil inisiatif dan berkoordinasi dengan Pemda mengambil-alih aset tersebut dan melanjutkan pelayanan kesehatan di tempat itu dalam bentuk pelayanan kesehatan masyarakat dan balai pengobatan.

 

Dalam koordinasi dengan Departemen Partisipasi Pembangunan (Parpem) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) direkrut kader kesehatan desa (masyarakat) dan beberapa diantaranya dikirim ke Jawa untuk sekolah perawatan, yaitu ke Parakan (RS Ngesti Waluyo) dan Yogyakarta (RS Bethesda). Pendorong lain  adalah salah seorang warga jemaat, yaitu Andi Adang, walau belum menyelesaikan studi kedokteran pada waktu itu di Surabaya (sekarang sudah dokter), pulang kampung dan memberi wawasan pengembangan pelayanan kesehatan, termasuk pengiriman beberapa tenaga untuk sekolah perawat itu.


Kelak para perawat ini yang memimpin BP itu sekarang ini. Dr. Andi Adang sempat memimpin lagi setelah menyelesaikan studi, hingga 2 tahun terakhir, sebelum melayani di tempat lain. Sayang pengkaderan seperti ini tidak berlanjut, ketika para “senior” ini sudah sepuh, bahkan beberapa diataranya pensiun, kader baru tidak ada. Beberapa dokter dan paramedis yang memimpin BP ini selain Dr. Andi Adang, diantaranya Dr. Yefta (alm) pada tahun 1975, Dr. Dwidjo (dokter paruh waktu, yang diperbantukan dari Pemda), Sr. Corry Tilaar, Martinus , Dr. Harry Cahyono, Dr. Wawan. Kerjasama dan koordinasi dengan Pemda (sampai sekarang) dan dukungan jemaat (lokal) untuk menjalankan pelayanan, sangat membantu penyelenggaraan pelayanan BP ini.


Dukungan jemaat lokal sangat nyata kepada BP Parama Asih. Ketika direncanakan renovasi dan pengembangan bangunan BP ini—yang rusak ketika gempa menimpa daerah ini, jemaat ikut menyumbangkan dana melalui kolekte diakonia pada setiap kebaktian. Demikian juga, ketika penulis mengunjungi desa-desa, tempat penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat ini, masyarakat (baca: jemaat) dengan bangga menceritakan BP Parama Asih sebagai pelayanan kesehatan miliki gereja.
Akan tetapi, semangat dan rasa itu belum bersambut dengan baik dalam hal pelayanan. Bangunan fisik yang hampir selesai, belum diikuti dengan pelayanan yang memadai.


Tenaga kesehatan sekarang ini adalah 1 orang perawat, 1 orang bidan dan 1 orang tukang kebun. Kunjungan pasien sangat sedikit, karena umumnya masyarakat menghendaki pengobatan dilaksanakan oleh dokter. Pembayaran “gaji” tenaga kesehatan itu kurang lancar, walaupun besaran nilai sangat minim. Keadaan ini belum mendapat respon Pengurus Yayasan—yang diserahi tanggung jawab oleh Gereja—memimpin BP ini. Rapat jarang dilaksanakan. Alasan yang didapatkan ketika bertemu dengan fungsionaris yayasan adalah belum didapatkan waktu yang cocok untuk bertemu dari seluruh fungsionaris.


Diskusi dengan Pemerintah Daerah

Kondisi demikian, antara lain dibicarakan dengan Drs. Simeon Th. Pally (Bupati) dan Drs. Julius Laikol (Pj. Kadis Kesehatan). Pada waktu diskusi, diinformasikan dan diharapkan dukungan Pemda terhadap kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat yang diselenggarakan Pelkesi.  Bapak Simeon sangat peduli terhadap kesehatan karena kondisi kesehatan masyarakat di Alor memprihatinkan. Pemda berusaha merespon dengan baik, antara lain melalui penyediaan anggaran untuk tenaga-tenaga kesehatan, khususnya medis (umum dan spesialis). Tetapi masih belum berhasil sebagaimana yang diharapkan. Dokter umum yang PNS, baru 4 orang, sisanya adalah dokter PTT (pegawai tidak tetap); tidak ada dokter spesialis. Direktur RSUD adalah perawat senior, sedangkan dokter yang ada difokuskan pada pelayanan pasien.

 

Terhadap BP Parama Asih, Bupati memberi perhatian secara khusus, karena kehadiran sarana pelayanan kesehatan ini adalah salah satu wujud partisipasi masyarakat (baca: gereja) terhadap pembangunan di kabupaten Alor, khususnya di bidang kesehatan. Kepada Dinas Kesehatan diberi arahan untuk memberi perhatian secara khusus merevitalisasi BP Parama Asih, termasuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Kendala internal akan segera difasilitasi untuk mendapatkan pemecahan yang baik. Khusus penyediaan tenaga, Pemda bersedia membayar “gaji” dokter untuk ditempatkan di BP Parama Asih. Dalam kerjasama dengan Japan Overseas Christian Medical Cooperative Services (JOCS) Pelkesi menginformasikan beasiswa kepada perawat. Ini merupakan peluang bagi Yayasan untuk mengkosolidasikan lembaga dan pelayanan BP ini. Banyak pihak telah memberikan dukungan. Sayang kalau itu berlalu begitu saja.

 

Bertemu dengan masyarakat

Program yang dilaksanakan di Alor adalah “Pemberdayaan Perempuan Untuk Peningkatan status kesehatan ibu hamil dan melahirkan serta pencegarahan penyakit berbasis masyarakat (Empowering women enhancing maternal health status and community based disease prevention), dilaksanakan di 3 kecamatan, yaitu Mataru, Alor Selatan, Alor dan Tengah Utara. Tidak semua daerah ini dikunjungi penulis karena keterbatasan waktu tetapi juga kondisi jalan terjal (pegunungan) dan kurang lebar. Desa yang sempat dikunjungi adalah Desa Manetuati dan Kamaifui. Desa lain yang dilalui adalah Desa Taman Mataru Timur dan Taman Mataru.


Untuk mencapai desa-desa ini, masyarakat menggunakan mobil yang memiliki gardan (four wheel drive), yang populer disebut “panser”. Sebab walaupun jalan sudah di aspal, tetapi jalan mendaki dengan kemiringan 25-40°, yang membelah tebing dan jurang serta berliku-liku. Bila melewati tikungan, supir harus hati-hati dan yakin betul tidak ada kendaraan dari depan. Bila tidak, tabrakan bisa terjadi. Kendaraan ini yang dipakai ke Kalabahi (kota kabupaten) untuk membeli kebutuhan dan menjual hasil bumi, seperti minyak kenari. Daerah ini merupakan penghasil utama minyak tesebut di Indonesia.


Kesehatan masyarakat sangat rendah. Karena daerah berhawa dingin, masyarakat jarang mandi. Memang sumber air jarang, tetapi untuk 1-2 desa pasti didapatkan, tetapi alasan yang digunakan tidak mandi adalah hawa dingin. Mandi sekali seminggu, sudah bagus. Sebab cerita masyarakat ada juga yang baru mandi sekali sebulan. Kulit anak-anak agak bersisik, jenis penyakit kulit. Diare sering mewabah; anak kekurangan gizi. Sangat sedikit rumah yang berlantai, umumnya langsung dengan tanah. Kasus kematian ibu melahirkan cukup tinggi di desa-desa yang dikunjungi. Demikian juga angka kesakitan dan kematian balita. Tidak jarang dukun menjadi “bidan” persalinan ibu melahirkan karena akses pelayanan kesehatan cukup rendah.

Desa-desa ini tepat dipilih sebagai daerah-sasaran program kerjasama antara Pelkesi dan Simavi, melalui pemberdayaan masyarakat terhadap kesehatan ibu dan anak. Kader-kader kesehatan masyarakat dilatih tentang pengetahuan dan wawasan kesehatan ibu dan anak-anak. Kader ini nantinya diorganisasikan dalam suatu organisasi-kader. Organisasi ini membantu mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan desa, dan memobilisasi sumber daya untuk mengatasinya, termasuk menghubungi para stakeholder, yaitu para pengambil kebijakan, tenaga kesehatan dan pihak lain yang peduli terhadap kesehatan masyarakat desa.

 

 
logo pelkesi-actalliance

Mitra Luar Negeri

Mitra Luar Negeri Bread for the World The Global Fund JOCS

Mitra Dalam Negeri

Mitra Dalam Negeri Puspromkes Kemenkes RI BKKBN JKLPK Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia